Archive for May, 2011

Scabies!!~~

Posted: May 31, 2011 in Uncategorized

Definisi
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya. Beberapa sinonim penyakit ini yaitu: Kudis, The Itch, Gudig, Budukan, Gatal Agogo.

Epidemiologi
Skabies merupakan penyakit epidemik pada banyak masyarakat. Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemik scabies. Penyakit ini banyak dijumpai pada anak dan orang dewasa muda, tetapi dapat juga mengenai semua umur. Insidensi sama pada pria dan wanita.
Insidensi skabies di negara berkembang menunjukan siklus fluktasi yang sampai saat ini belum dapat dijelaskan. Interval antara akhir dari suatu epidemic dan permulaan epidemik berikutnya kurang lebih 10-15 tahun. Beberapa factor yang dapat membantu penyebarannya adalah kemiskinan, hygiene yang jelek, seksual promiskuitas, diagnosis yang salah, demografi, ekologi dan derajat sensitasi individual. Insidensinya di Indonesia masih cukup tinggi, terendah di Sulawesi Utara dan tertinggi di Jawa Barat.

Etiologi
Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthopoda, kelas Arachnida, ordo Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis, sedangkan varietas pada mamalia lain dapat menginfestasi manusia, tetapi tidak dapat hidup lama.
Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor, dan tidak bermata. Tungau betina panjangnya 300-450 mikron, sedangkan tungau jantan lebih kecil, kurang lebih setengahnya yakni 200 – 240 mikron x 150 – 200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki dan bergerak dengan kecepatan 2,5 cm permenit di permukaan kulit.

Siklus Hidup
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2 -3 milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai mencapai jumlah 40 atau 50 . Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2 -3 hari larva akan menjadi nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki. Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu antara 8 – 12 hari. Telur menetas menjadi larva dalam waktu 3 – 4 hari, kemudian larva meninggalkan terowongan dan masuk ke dalam folikel rambut. Selanjutnya larva berubah menjadi nimfa yang akan menjadi parasit dewasa. Tungau betina akan mati setelah meninggalkan telur, sedangkan tungau jantan mati setelah kopulasi. Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih kurang 7 – 14 hari. Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab, contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi, karena seluruh kulitnya masih tipis, maka seluruh badan dapat terserang.

Penularan
Penyakit ini menular dari hewan ke manusia (zoonosis), manusia ke hewan, bahkan dari manusia ke manusia. Cara penularannya adalah lewat kontak langsung maupun tak langsung antara penderita dengan orang lain, melalui kontak kulit, baju, handuk dan bahan-bahan lain yang berhubungan langsung dengan si penderita. Julukan scabies sebagai penyakitnya anak pesantren alasannya karena anak pesantren suka (baca gemar) bertukar, pinjam-meminjam pakaian, handuk, sarung bahkan bantal, guling dan kasurnya kepada sesamanya.
Tempat-tempat yang menjadi favorit bagi sarcoptes scabei tinggal adalah daerah-daerah lipatan kulit, seperti telapak tangan, kaki, selakangan, lipatan paha, lipatan perut, ketiak dan daerah vital.

Patofisiologi
Sarcoptes scabei betina yang berada di lapisan kulit stratum corneum dan stratum lucidum membuat terowongan ke dalam lapisan kulit. Di dalam terowongan inilah Sarcoptes betina bertelur dan dalam waktu singkat telur tersebut menetas menjadi hypopi yakni sarcoptes muda dengan tiga pasang kaki. Akibat terowongan yang digali Sarcoptes betina dan hypopi yang memakan sel-sel di lapisan kulit itu, penderita mengalami rasa gatal, akibatnya penderita menggaruk kulitnya sehingga terjadi infeksi ektoparasit dan terbentuk kerak berwarna coklat keabuan yang berbau anyir. Sarcoptes tidak tahan dengan udara luar. Kalau orang yang menderita kudisan dan sering menggaruk pada kulit yang terkena tungau, tungau-tungau itu tetap dapat bertahan hidup karena kerak yang copot dari kulit memproteksi (jadi payung) tungau terhadap udara luar. Akibat lain kegiatan menggaruk tadi adalah mundulnya infeksi sekunder, dengan munculnya nanah (pus) dalam luka tadi. Hal ini akan menyulitkan pengobatan.

Gejala Klinis
Gejala yang ditunjukkan adalah warna merah, iritasi dan rasa gatal pada kulit yang umumnya muncul di sela-sela jari, siku, selangkangan, dan lipatan paha. Gejala lain adalah munculnya garis halus yang berwarna kemerahan di bawah kulit yang merupakan terowongan yang digali Sarcoptes betina. Gejala lainnya muncul gelembung berair pada kulit.

Diagnosis
Ada 4 tanda cardinal :
1. Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
2. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota keluarganya terkena, walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier).
3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ini ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimarf (pustule, ekskoriasi dan lain-lain). Tempat predileksinya biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia eksterna (pria) dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.
4. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostic. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.
Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut.
Diagnosa pasti scabies dilakukan dengan membuat kerokan kulit pada daerah yang berwarna kemerahan dan terasa gatal. Kerokan yang dilakukan sebaiknya dilakukan agak dalam hingga kulit mengeluarkan darah karena Sarcoptes betina bermukim agak dalam di kulit dengan membuat terowongan. Untuk melarutkan kerak digunakan larutan KOH 10 persen. selanjutnya hasil kerokan tersebut diamatai dengan mikroskop dengan perbesaran 10-40 kali.

Pengobatan
Pengobatan umum :
• Mencuci bersih, bahkan sebagian ahli menganjurkan dengan cara direbus, handuk, seprai maupun baju penderita skabies, kemudian menjemurnya hingga kering dibawah sinar matahari. Tujuannya agar tungau mati karena sinar matahari.
• Pakaian dicuci dengan menggunakan cairan karbol.
• Mengubah cara hidup sehari-hari dengan tidak saling meminjamkan pakaian dan barang pribadi lainnya ke orang lain.
• Mengobati seluruh anggota keluarga, atau masyarakat yang terinfeksi untuk memutuskan rantai penularan.
Pengobatan khusus :
1. Permetrin. Merupakan obat pilihan untuk saat ini , tingkat keamanannya cukup tinggi, mudah pemakaiannya dan tidak mengiritasi kulit. Dapat digunakan di kepala dan leher anak usia kurang dari 2 tahun. Penggunaannya dengan cara dioleskan ditempat lesi lebih kurang 8 jam kemudian dicuci bersih
2. Malation. Malation 0,5 % dengan dasar air digunakan selama 24 jam. Pemberian berikutnya diberikan beberapa hari kemudian.
3. Emulsi Benzil-benzoas (20-25 %). Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Sering terjadi iritasi dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
4. Sulfur. Dalam bentuk parafin lunak, sulfur 10 % secara umum aman dan efektif digunakan. Dalam konsentrasi 2,5 % dapat digunakan pada bayi. Obat ini digunakan pada malam hari selama 3 malam .
5. Monosulfiran. Tersedia dalam bentuk lotion 25 %, yang sebelum digunakan harus ditambah 2 – 3 bagian dari air dan digunakan selama 2 – 3 hari .
6. Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan). Kadarnya 1 % dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan dan jarang terjadi iritasi. Tidak dianjurkan pada anak di bawah 6 tahun dan wanita hamil karena
toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala ulangi seminggu kemudian.
7. Krotamiton 10 % dalam krim atau losio, merupakan obat pilihan. Mempunyai 2 efek sebagai antiskabies dan antigata

setelah lama aku menenggelamkan diri dari dunia penulisan blog ni, akhirnya aku tergerak utk menulis di sini..
bukan krn pengen eksis (mencapap @ nak terlihat exist)..
tapi, utk beri peringatan..
pada diriku dan pada dirimu duhai pembaca..insyaAllah..

ITTAQULLAH!!!
takutlah kepada Allah, jangan takut padaku yang hanya hambaNya ini..
rasa sedih dan kecewa timbul apabila teman2 kita yg kita nasihat takut pada kita..
kita pernah tegur n nasihat dia –> jgn buat ini, tak elok..jgn buat itu, berdosa..tinggalkanlah krn tak mendatangkan manfaat..dan so on..
setelah mendengar nsht kita, mereka berubah..alhamdulillah..
namun, jgnlah berubah keranaku, berubahlah kerana Allah..
sbb jika anda berubah keranaku, so anda akan segan dan takut hanya apb brd di depanku..
bila daku tiada, anda akan lupa n leka..malah tidak gentar..
ya..yg sepatutnya anda perlu merasa gentar hati dan takut itu hanya pada Allah.
daku hanyalah hambaNya..

so, di sini..daku nak tegaskan dan tekankan tentang ITTAQULLAH itu..
berTAQWAlah kepada Allah..
mungkin kalian sudah tahu..
so..u just need reminder, in case u forgot rite??

TAQWA
>> Dari segi bahasa berasal daripada perkataan “wiqayah” : memelihara.
Maksud kepada pemeliharaan itu adalah memelihara hubungan baik dengan Allah SWT., memelihara diri daripada sesuatu yang dilarangNya. Melaksanakan segala titah perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya.

>> Rasulullah SAW pernah ditanya maksud taqwa. Baginda menjelaskannya seperti maksudnya yang berikut :
“pernahkah engkau bertemu jalan yang banyak duri dan bagaimana tindakanmu waktu itu? Orang itu menjawab, apabila aku melihat duri aku mengelak ke tempat yang tidak ada duri atau aku langkahi atau aku mundur. Abu hurairah menjawab, itulah dia taqwa.”

>> Taqwa juga boleh didefinisikan sebagai pelaksanaan tuntutan rukun iman dan amal salih, takut melaksanakan larangan allah dan berani melaksanakan titah perintahNya.

Dalam surah ali-Imran ayat 102 yang bermaksud :” Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa. Janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan kamu beragama Islam.”

so, di sini..kita muhasabah semula diri kita..
adakah kita sudah bertaqwa kpd Allah selama ni? setiap masa..setiap detik??
atau kita hanya bertaqwa pada keadaan tertentu sahaja??
marilah kita pupukkan hati..tabur baja di sanubari..semai jiwa dengan taqwa..
didiklah diri utk sentiasa bertaqwa..
ingat Allah selalu..

Do we know our Lord??? –> “ama zilna-benammi”

Posted: May 30, 2011 in Uncategorized

Approaching God with our hearts
No fear nor grief for whom He guides
His rope is strong and will never waver
His provision is there for all who are in need

In every place, at every time
Above you is The Glorious Caretaking Lord
In every place, at every time
You have a Lord who loves you and will never forget you

Do we know our Lord?
Do we see our Lord’s blessings?
Do we know our Lord?
Do we thank Him… or have we forgotten..
that His servants… we are

In His Dominion we exist for as long as He wills
And we call upon His bounty through prayer
And seek His favors through hope
For He is our refuge when difficulty strengthens its hold

In every place, at every time
Above you is a Gloriouscare Taking Lord
In every place, at every time
You have a Lord who loves and will never forget you

Do we know our Lord? Do we see our Lord’s blessings?
Do we know our Lord? Do we thank Him… or have we forgotten..
that His servants… we are

My heart is for Allah, My soul is for Allah
My wealth is for Allah
*****

p/s : ni nasyeed arab yg br jugak tau..best..sgt touching, good music arrangement, good voice, n deep reminder..insyaAllah..
to hear da real one, check it out at here –> ama zilna-benammi

kaki diabetik

Posted: May 25, 2011 in Uncategorized

PATOFISOLOGI
Terjadinya masalah kaki diawali adanya hiperglikemia pada penyandang DM yang menyebabkan kelainan neuropati dan kelainan pada pembuluh darah. Neuropati, baik neuropati sensorik maupun motorik dan autonomik akan mengakibatkan berbagai perubahan pada kulit dan otot, yang kemudian menyebabkan terjadinya perubahan distribusi tekanan pada telapak kaki dan selanjutnya akan mempermudah terjadinya ulkus. Adanya kerentanan terhadap infeksi menyebabkan infeksi mudah merebak menjadi infeksi yang luas. Faktor aliran darah yang kurang juga akan lebih lanjut menambah rumitnya pengelolaan kaki diabetes.

KLASIFIKASI KAKI DIABETES
Terdapat suatu klasifikasi mutakhir yang dianjurkan oleh International Consensus on Diabetic Foot, yakni Klasifikasi PEDIS 2003. Dengan klasifikasi PEDIS ini dapat ditentukan kelainan apa yang lebih dominan, vascular, infeksi atau neuropatik, sehingga pengelolaan pun dapat tertuju dengan lebih baik.

Klasifikasi PEDIS International Consensus on Diabetic Foot 2003
Impaired Perfusion
1 = None
2 = PAD + but not critical
3 = Critical limb ischemia

Tissue Loss/Depth (Size/Extent in mm2)
1 = Tukak superficial, tidak lebih dalam dari dermis
2 = Tukak dalam, bawah dermis, (sampai struktur
subkutan, fasia, otot dan tendon)
3 = Tukak dalam, mengenai semua lapisan dari kaki,
termasuk melibatkan tulang dan sendi.

Infection
1 = Tiada gejala atau tanda infeksi
2 = Infeksi hanya sebatas kulit dan jaringan subkutan.
3 = Eritema > 2cm atau infeksi melibatkan struktur
subkutan.
4 = Infeksi dengan manifestasi sistemik : demam,
leukositosis, shift to the left, hipotensi, azotemia,
instabilitas metabolik.

Impaired Sensation
1 = Tiada
2 = Ada

Suatu klasifikasi lain yang juga sangat praktis dan sangat erat dengan pengelolaan adalah klasifikasi yang berdasar pada perjalanan alamiah kaki diabetes ( Edmonds 2004-2005) :
• Stage 1 : Normal foot
• Stage 2 : High Risk Foot
• Stage 3 : Ulcerated Foot
• Stage 4 : Infected Foot
• Stage 5 : Necrotic Foot
• Stage 6 : Unsalvable Foot
Untuk stage 1 dan 2, peran pencegahan primer sangat penting, dan semuanya dapat dikerjakan pada pelayanan kesehatan primer, baik oleh podiatrist/chiropodist maupun dokter umum/dokter keluarga.
Untuk stage 3 dan 4 kebanyakan sudah memerlukan perawatan di tingkat pelayanan kesehatan yang lebih memadai umumnya sudah memerlukan pelayanan spesialistik.
Untuk stage 5, apalagi stage 6, jelas merupakan kasus rawat inap, dan jelas sekali memerlukan suatu kerjasama tim yang sangat erat, di mana harus ada dokter bedah, utamanya dokter ahli bedah vaskuler/ahli bedah plastic dan rekonstruksi.

PENGELOLAAN KAKI DIABETES
1) PENCEGAHAN PRIMER
Pencegahan primer merupakan pencegahan yang dilakukan sebelum terjadi perlukaan pada kulit, yakni pencegahan terjadinya kaki diabetes dan terjadinya ulkus.
Pencegahan primer dilakukan pada kaki diabetes, berdasarkan risiko terjadinya dan risiko besarnya masalah yang mungkin terjadi. Penggolongan kaki diabetes berdasar risiko terjadinya masalah (Frykberg) :
a) Sensasi Normal Tanpa Deformitas
b) Sensasi Normal dengan Deformitas atau Tekanan Plantar Tinggi
c) Insensitivitas Tanpa Deformitas
d) Iskemia Tanpa Deformitas
e) Kombinasi/complicated
a. Kombinasi insensitivitas, iskemia dan/atau deformitas
b. Riwayat adanya tukak, deformitas Charcot
Penyuluhan diperlukan untuk semua kategori risiko tersebut : untuk kaki yang kurang sensitif (kategori c dan e), alas kaki perlu diperhatikan benar, untuk melindungi kaki yang insensitive tersebut.
Kalau sudah ada deformitas (kategori b dan e ), perlu perhatikan khusus mengenai sepatu/alas kaki yang dipakai, untuk meratakan penyebaran tekanan pada kaki.
Untuk kasus dengan kategori d (permasalahan vascular), latihan kaki perlu diperhatikan benar untuk memperbaiki vaskularisasi kaki.
Untuk ukus yang complicated, tentu saja semua usaha dan dana seyogyanya perlu diperlukan untuk mencoba menyelamatkan kaki dan usaha ini masuk ke usaha pencegahan sekunder yang akan dibahas lanjut di bawah ini.

2) PENCEGAHAN SEKUNDER
Pencegahan sekunder dan pengelolaan ulkus/gangren diabetik yang sudah terjadi, yakni pencegahan agar tidak terjadi kecacatan yang lebih parah.
a) Kontrol metabolik : kontrol kadar gula darah, kadar albumin serum, kadar Hb dan derajat oksigenasi jaringan serta fungsi ginjal. Semua factor tersebut akan dapat mneghambat kesembuhan luka jika tidak diperhatikan dan tidak diperbaiki.
b) Kontrol vaskular : kelainan pembuluh darah perifer dapat dikenali secara sederhana seperti : warna dan suhu kulit, perabaan arteri dorsalis pedis dan arteri tibialis posterior serta ditambah pengukuran tekanan darah. Pengelolaannya bisa berupa modifikasi faktor risiko (memperbaiki faktor risiko arterosklerosis dan walking program), terapi farmakologis (memperbaiki patensi pada penyakit pembuluh darah kaki penyandang DM) dan revaskularisasi (terapi bedah).
c) Wound control : debridement yang adekuat dan terapi topical (cairan salin sebagai pembersih luka, atau cairan yodine encer, senyawa silver sebagai bagian dari dressing).
d) Microbiological control : pemberian antibiotic dengan spectrum luas, mencakup kuman Gram positif dan negative, dikombinasikan dengan obat yang bermanfaat terhadap kuman anaerob (seperti misalnya metronidazol).
e) Pressure control : jika tetap kaki dipakai untuk berjalan, luka yang selalu mendapat tekanan tidak akan sempat menyembuh, palagi kalau luka tersebut terletak di bagian plantar seperti luka pada kaki Charcot. Untuk mencapai kedaan non weight-bearing dapat dilakukan antara lain : removable cast walker, temporary shoes, wheelchair, total contact casting.
f) Education control : dengan penyuluhan yang baik, penyandang DM atau ulkus/gangrene diabetic maupun keluarganya diharapkan akan dapat membantu dan mendukung berbagai tindakan yang diperlukan untuk kesembuhan luka yang optimal.

persalinan normal

Posted: May 25, 2011 in Uncategorized

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup, dari dalam uterus melalui vagina atau jalan lain ke dunia luar. Persalinan normal atau spontan adalah bayi lahir melalui vagina dengan letak belakang kepala atau ubun-ubun kecil, tanpa memakai alat atau pertolongan istimewa, serta tidak melukai ibu maupun bayi (kecuali episiotomi), berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.

Terdapat beberapa faktor yang berperan sebagai penyebab mulainya proses persalinan yaitu:
1. Faktor Hormonal
Penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron 1-2 minggu sebelum partus , dianggap sebagai salah satu faktor penyebab mulainya proses persalinan. Sebagaimana diketahui progesteron merupakan penenang bagi otot-otot uterus.
2. Penurunan fungsi plasenta
Plasenta menjadi tua sesuai usia kehamilan. Vili korialis mengalami perubahan sehingga kadar estrogen dan progeteron berkurang. Iskemia otot-otot uterus
3. Keadaan uterus yang semakin membesar dan menegang akibat pengaruh hormon dan beban menyebabkan iskemia dari otot-otot uterus. Hal ini menyebabkan terjadi gangguan dari sirkulasi uteroplasenter yang membuat plasenta degenerasi.
4. Penekanan pada gangglion servikale dari pleksus Frankenhauser
Kondisi ini menjadi stimulasi (pacemaker) kontraksi otot polos uterus.

Persalinan ditentukan oleh 3 faktor utama diantaranya:
1. Power (His)
His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai dari daerah fundus uteri di mana tuba falopii memasuki dinding uterus, awal gelombang tersebut didapat dari ‘pacemaker’ yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut. Resultant efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal mengarah ke daerah lokus minoris yaitu daerah kanalis servikalis (jalan laihir) yang membuka, untuk mendorong isi uterus ke luar.

Terjadinya his, akibat :
1. kerja hormon oksitosin
2. regangan dinding uterus oleh isi konsepsi
3. rangsangan terhadap pleksus saraf Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi.

His yang baik dan ideal meliputi :
a. kontraksi simultan simetris di seluruh uterus
b. kekuatan terbesar (dominasi) di daerah fundus
c. terdapat periode relaksasi di antara dua periode kontraksi.
d. terdapat retraksi otot-otot korpus uteri setiap sesudah his

2. Passage (Keadaan Jalan Lahir)
Dari kelima tipe panggul wanita, tipe ginekoid merupakan tipe yang paling mudah dalam persalinan, dimana diameter sagital posterior pintu atas panggul hanya sedikit lebih pendek dari diameter sagitalanteriornya.
3. Passanger (Keadaan Janin)
Keadaan janin meliputi letak, presentasi, ukuran, berat janin, serta ada atau tidaknya kelainan anatomi mayor.
Dengan adanya keseimbangan berbagai faktor tersebut, persalinan normal diharapkan dapat berlangsung.

Berlangsungnya Persalinan Normal
Partus dibagi menjadi 4 kala, yaitu kala I atau kala pembukaan (terjadinya pembukaan servik sampai 10 cm), kala II (berkat kekuatan his dan mengedan janin terdorong hingga lahir), kala III (plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan), dan kala IV (mulai dari lahirnya plasenta sampai satu jam post partum)

KALA 1 : FASE PEMATANGAN / PEMBUKAAN SERVIKS
Kala I dimulai pada waktu serviks membuka karena his : kontraksi uterus yang teratur, makin lama, makin kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir yang tidak lebih banyak daripada darah haid dan berakhir pada waktu pembukaan serviks telah lengkap (pada periksa dalam, bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi). Selaput ketuban biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I.
Kala I dibagi menjadi 2 fase, yaitu:
• Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam.
• Fase aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung sekitar 6 jam.
Fase aktif terbagi atas :
1. fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.
2. fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.
3. fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm).
Peristiwa penting pada persalinan kala I:
1. keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis, akibat terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus.
2. ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar.
3. selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm).
Pematangan dan pembukaan serviks (cervical effacement) pada primigravida berbeda dengan pada multipara :
1. pada primigravida terjadi penipisan serviks lebih dahulu sebelum terjadi pembukaan – pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan sebelumnya, sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan
2. pada primigravida, ostium internum membuka lebih dulu daripada ostium eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di tengah) – pada multipara, ostium internum dan eksternum membuka bersamaan (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar)
3. periode kala 1 pada primigravida lebih lama (+ 20 jam) dibandingkan multipara (+14 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten pasien primigravida memerlukan waktu lebih lama.

KALA 2 : FASE PENGELUARAN BAYI

Kala II dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir pada saat bayi telah lahir lengkap. Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2. His menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2-3 menit sekali.
Lama kala 2 pada primigravida + 1.5 jam, multipara + 0.5 jam.
Peristiwa penting pada persalinan kala II
1. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul.
2. Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat.
3. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik)
4. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan.
5. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi).

Gerakan utama pengeluaran janin pada persalinan dengan letak belakang kepala:
1. Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring / membentuk sudut dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior / posterior).
2. Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat : 1) tekanan langsung dari his dari daerah fundus ke arah daerah bokong, 2) tekanan dari cairan amnion, 3) kontraksi otot dinding perut dan diafragma (mengejan), dan 4) badan janin terjadi ekstensi dan menegang.
3. Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah dari diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipito-bregmatikus (belakang kepala).
4. Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala, putaran ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis), membawa kepala melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis.
5. Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput melewati bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir berturut-turut : oksiput, bregma, dahi, hidung, mulut, dagu.
6. Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai dengan sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi anteroposterior sampai di bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu depan dan bahu belakang.
7. Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan lengan, pinggul / trokanter depan dan belakang, tungkai dan kaki.

Pelaksanaan Fisiologis Kala II Persalinan
1. Mulai Mengedan
Cara ibu mengedan yaitu:
a. Ibu dalam letak berbaring merangkul kedua pahanya sampai batas siku. Kepala sedikit diangkat sehingga dagu mendektai dada dan dapat melihat perutnya.
b. Sikap seperti diatas tapi badan dalam posisi miring kiri atau kanan tergantung dalam letak punggung anak. Posisi ini fisiologis dan dapt membantu putaran paksi yang belum sempurna.
Pemantauan dilakukan secara berkala untuk menilai ibu dan janin serta kemajuan persalinan dalam kala II. Memeriksa dan mencatat nadi ibu setiap 30 menit, frekuensi dan lama kontraksi selama 30 menit, denyut jantung janin setiap selesai mengedan, penurunan kepala bayi melalui pemeriksaan abdomen, cairan ketuban, apakah ada presentasi majemuk dan kehamilan kembar serta semua pemeriksaan dan intervensi yang dilakukan dalam catatan persalinan.
2. Melahirkan Kepala
Saat kepala bayi membuka vulva (5-6 cm), letakkan kain yang bersih dan kering yang dilipat 1/3 nya di bawah bokong ibu dan siapkan kain atau handuk bersih di atas perut ibu (untuk mengeringkan bayi segera setelah lahir). Lindungi perineum dengan satu tangan (dibawah kain bersih dan kering), ibu jari pada salah sisi perineum dan 4 jari tangan pada sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang kepala bayi. Tahan belakang kepala bayi agar posisi kepala tetap fleksi pada saat keluar secara bertahap melewati introitus dan perineum.
Usap muka bayi dengan kain atau kasa bersih atau DTT untuk membersihkan lendir dan darah dari mulut dan hidung bayi.
Jangan melakukan pengisapan lendir secara rutin pada mulut dan hidung bayi. Sebagian besar bayi sehat dapat menghilangkan lendir tersebut secara alamiah pada dengan mekanisme bersin dan menangis saat lahir. Pada pengisapan lendir yang terlalu dalam, ujung kanul pengisap dapat menyentuh daerah orofaring yang kaya dengan persyarafan parasimpatis sehingga dapat menimbulkan reaksi vaso-vagal. Reaksi ini menyebabkan perlambatan denyut jantung (bradikardia) dan/atau henti napas (apnea) sehingga dapat membahayakan keselamatan jiwa bayi. Dengan alasan itu maka pengisapan lendir secara rutin menjadi tidak dianjurkan.
Selalu isap mulut bayi lebih dulu sebelum mengisap hidungnya. Mengisap hidung lebih dulu dapat menyebabkan bayi menarik nafas dan terjadi aspirasi mekonium atau cairan yang ada di mulutnya. Jangan masukkan kateter atau bola karet penghisap terlalu dalam pada mulut atau hidung bayi. Hisap lendir pada bayi dengan lembut, hindari pengisapan yang dalam dan agresif.
3. Memeriksa Tali Pusat pada Leher
Setelah kepala bayi lahir, minta ibu untuk berhenti meneran dan bernafas cepat. Periksa leher bayi apakah terlilit oleh tali pusat. Jika ada dan lilitan di leher bayi cukup longgar maka lepaskan lilitan tersebut dengan melewati kepala bayi. Jika lilitan tali pusat sangat erat maka jepit tali pusat dengan klem pada 2 tempat dengan jarak 3 cm, kemudian potong tali pusat di antara 2 klem tersebut.
4. Melahirkan Bahu
Setelah menyeka mulut dan hidung bayi hingga bersih dan memeriksa tali pusat, tunggu hingga terjadi kontraksi berikutnyadan awasi rotasi spontan kepala bayi. Setelah rotasi eksternal, letakkan satu tangan pada setiap sisi kepala bayi dan beritahukan kepada ibu untuk mengedan pada kontraksi berikutnya. Lakukan tarikan perlahan kearah bawahdan luar secara lembut kearah tulang punggung ibu hingga bahu tampak dibawah arkus pubis. Angkat kepala bayi kearah atas dan luar untuk melahirkan bauh posterior bayi.

5. Melahirkan Seluruh Tubuh Bayi
• Saat bahu posterior lahir, geser tangan bawah (posterior) ke arah perineum dan sanggah bahu dan lengan atas bayi pada tangan tersebut.
• Gunakan tangan yang sama untuk menopang lahirnya siku dan tangan posterior saat melewati perineum.
• Tangan bawah (posterior) menopang samping lateral tubuh bayi saat lahir.
• Secara simultan, tangan atas (anterior) untuk menelusuri dan memegang bahu, siku dan lengan bagian anterior.
• Lanjutkan penelusuran dan memegang tubuh bayi ke bagian punggung, bokong dan kaki .
• Dari arah belakang, sisipkan jari telunjuk tangan atas di antara kedua kaki bayi yang kemudian dipegang dengan ibu jari dan ketiga jari tangan lainnya.
• Letakkan bayi di atas kain atau handuk yang telah disiapkan pada perut bawah ibu dan posisikan kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya.
• Segera keringkan sambil melakukan rangsangan taktil pada tubuh bayi dengan kain atau selimut di atas perut ibu. Pastikan bahwa kepala bayi tertutup dengan baik.
6. Memotong Tali Pusat
Dengan menggunakan klem DTT, lakukan penjepitan tali pusat dengan klem pada sekitar 3 cm dari dinding perut (pangkal pusat) bayi. Dari titik jepitan, tekan tali pusat dengan dua jari kemudian dorong isi tali pusat ke arah ibu (agar darah tidak terpancar pada saat dilakukan pemotongan tali pusat). Lakukan penjepitan kedua dengan jarak 2 cm dari tempat jepitan pertama pada sisi atau mengarah ke ibu. Pegang tali pusat di antara kedua klem tersebut, satu tangan menjadi landasan tali pusat sambil melindungi bayi, tangan yang lain memotong tali pusat di antara kedua klem tersebut dengan menggunakan gunting disinfeksi tingkat tinggi atau steril.

KALA 3 : FASE PENGELUARAN PLASENTA

Kala III dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap dan berakhir dengan lahirnya plasenta. Kelahiran plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri. Lepasnya plasenta dari insersinya mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal.
Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir.
Kala III terdiri dari dua fase:
• Fase pelepasan uri
• Fase pengeluaran uri
Mekanisme pelepasan uri
Kontraksi rahim akan mengurangi area plasenta, karena rahim bertambha kecil dan dinding bertambah tebal. Kontraksi-kontraksi tersebut menyebabkan bagian yang longgar adan lemah dari uri pada dinding rahim akan terlepas, mula-mula sebagian dan kemudian seluruhnya. Proses pelepasan ini biasanya setahap demi setahap dan pengumpulan darah dibelakang uri akan membantu pelepasan uri. Bila pelepasan sudah lengkap, maka kontraksi rahim mendorong uri yang sudah lepas ke SBR, vagina dan dilahirkan.
Selaput ketuban pun dikeluarkan, sebagian oleh kontraksi rahim dan sewaktu keluarnya uri. Di tempat- tempat yang lepas terjadi perdarahan antar uri dengan desidua basalis disebut retroplasenter hemato.

KALA 4 : OBSERVASI PASCA PERSALINAN
Kala IV yaitu sampai dengan 1 jam postpartum, dilakukan observasi. Hal ini dimasudkan agar penolong persalinan masih mendampingi ibu setelah selesainya bersalin sekurang-kurangnya satu jam.
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan pada kala IV :
1. kontraksi uterus harus baik
2. tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain
3. plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap
4. kandung kencing harus kosong
5. luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma
6. resume keadaan umum bayi
7. resume keadaan umum ibu.

stroke iskemik

Posted: May 21, 2011 in Uncategorized

Pendahuluan

Gangguan Peredaran Darah Otak (GPDO) atau penyakit serebrovaskuler (Cerebro Vascular Disease / CVD) atau yang lebih di kenal dengan stroke menurut WHO adalah manifestasi klinis dari gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun menyeluruh (global), yang berlangsung dengan cepat, berlangsung lebih dari 24 jam, atau berakhir dengan maut, tanpa ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vaskular.
Pada stroke, terjadi hipoksia serebrum yang menyebabkan cedera dan kematian sel-sel neuron. Kerusakan otak karena stroke, terjadi sebagai akibat pembengkakan dan edema yang timbul dalam 24 – 72 jam pertama setelah kematian sel neuron.

Klasifikasi stroke berdasarkan penyebab adalah:
1. Stroke iskemik atau stroke non hemoragik, berupa TIA, trombosis dan emboli.
2. Stroke hemoragik, terdiri atas:
– Perdarahan Intra Serebral (PIS)
– Perdarahan Sub Arachnoid (PSA)

STROKE ISKEMIK

Definisi
Stroke iskemik merupakan stroke yang terjadi akibat penyumbatan pembuluh darah serebral yang menyebabkan terjadinya iskemik dan nekrosis di daerah yang mengalami kekurangan pasokan aliran darah di bawah batas yang dibutuhkan sel otak untuk tetap bertahan (survive).

Patofisiologi Stroke Iskemik

Aterosklerosis dapat menimbulkan bermacam-macam manifestasi klinik dengan cara :
a. Menyempitkan lumen pembuluh darah dan mengakibatkan insufisiensi aliran darah.
b. Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadinya trombus atau perdarahan aterom
c. Merupakan terbentuknya trombus yang kemudian terlepas sebagai emboli
d. Menyebabkan dinding pembuluh menjadi lemah dan terjadi aneurisma yang kemudian dapat robek
Suatu penyumbatan total dari aliran darah pada sebagian otak akan menyebabkan hilangnya fungsi neuron yang bersangkutan pada saat itu juga. Bila anoksia ini berlanjut sampai 5 menit maka sel tersebut dengan sel penyangganya yaitu sel glia akan mengalami kerusakan ireversibel sampai nekrosis beberapa jam kemudian yang diikuti perubahan permeabilitas vaskular disekitarnya dan masuknya cairan serta sel-sel radang .

Disekitar daerah iskemi timbul edem glia, akibat berlebihannya H+ dari asidosis laktat. K+ dari neuron yang rusak diserap oleh sel glia disertai rentensi air yang timbul dalam empat hari pertama sesudah stroke. Edem ini menyebabkan daerah sekitar nekrosis mengalami gangguan perfusi dan timbul iskemi ringan tetapi jaringan otak masih hidup. Daerah ini adalah iskemik penumbra.
Bila terjadi stroke, maka di suatu daerah tertentu dari otak akan terjadi kerusakan (baik karena infark maupun perdarahan). Neuron-neuron di daerah tersebut tentu akan mati, dan neuron yang rusak ini akan mengeluarkan glutamat, yang selanjutnya akan membanjiri sel-sel disekitarnya. Glutamat ini akan menempel pada membran sel neuron di sekitar daerah primer yang terserang. Glutamat akan merusak membran sel neuron dan membuka kanal kalsium (calcium channels). Kemudian terjadilah influks kalsium yang mengakibatkan kematian sel. Sebelumnya, sel yang mati ini akan mengeluarkan glutamt, yang selanjutnya akan membanjiri lagi neuron-neuron disekitarnya. Terjadilah lingkaran setan .
Neuron-neuron yang rusak juga akan melepaskan radikal bebas, yaitu charged oxygen molecules (seperti nitric acida atau NO), yang akan merombak molekul lemak didalam membran sel, sehingga membran sel akan bocor dan terjadilah influks kalsium .
Stroke iskemik menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak yang menyebabkan kematian sel.

Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya stroke di bagi atas;
1. Yang tidak dapat di ubah, seperti; usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, riwayat TIA atau stroke sebelumnya, penyakit jantung koroner, fibrilasi atrium.
2. Yang dapat di ubah, seperti hipertensi, diabetes mellitus, merokok, penyalahgunaan obat dan alkohol, kontrasepsi oral, hematokrit yang meningkat, bruit karotis asimtomatis, hiperurisemia dan dislipidemia.
a. Hipertensi
Merupakan faktor resiko yang potensial, karena pada hipertensi dapat meyebabkan pecahnya atau menyempitnya pembuluh darah otak. Jika pembuluh darah otak pecah maka terjadi perdarahan dan jika menyempit akan menyebabkan penurunan aliran darah ke otak sehingga sel otak dapat mengalami kematian.
b. Diabetes mellitus
Pada pasien diabetes mellitus akan terjadi penebalan dinding pembuluh darah otak yang berukuran besar. Hal ini jelas akan mengganggu aliran darah otak , yang pada akhirnya menyebabkan infark sel otak.
c. Penyakit Jantung
Penyakit jantung koroner dengan infark jantung, penyakit jantung rematik, dan gangguan irama jantung dapat menimbulkan GPDO dengan jalan menimbulkan hambatan aliran darah ke otak, karena jantung melepaskan gumpalan darah atau sel-sel jaringan yang mati ke dalam aliran darah yang disebut emboli.
d. Hiperkolesterolemia
Tingginya kadar kolesterol LDL dengan rendahnya HDL dapat meningkatkan terjadinya aterosklerosis, penebalan dinding pembuluh darah yang diikuti dengan penurunan elastisitas pembuluh darah, akibatnya terjadi gangguan aliran darah ke otak.
e. Merokok
Merokok dapat meningkatkan konsenterasi fibrinogen. Hal ini akan memudahkan terjadinya penebalan dinding pembuluh darah dan peningkatan viskositas pembuluh darah, yang akhirnya mempengaruhi aliran darah ke otak. Selain itu, merokok dapat menyebabkan resiko infark jantung.
f. Lain-lain, diantaranya obesitas, peningkatan asam urat, penyakit paru, dan penyakit darah.

Klasifikasi stroke iskemik
Berdasarkan onset penyakitnya stadium stroke iskemik terbagi atas:
1. Serangan iskemia atau Transient Ischemic Attack (TIA). Pada bentuk ini gejala neurologik yang timbul akibat gangguan peredaran darah di otak akan menghilang dalam waktu 24 jam.
2. Defisit Neurologik Iskemik Sepintas atau Reversible Ischemic Neurological Defisit (RIND). Gejala neurologik yang timbul akan menghilang dalam waktu lebih lama 24 jam. Tapi tidak lebih seminggu.
3. Stroke Progresif (Progresive Stroke atau Stroke in evolution). Gejala neurologik makin lama makin berat.
4. Stroke Komplet (Completed Stroke atau Permanent Stroke), gejala klinis sudah menetap.
Terdiri dari:
– Non-hemorrhagic stroke (infark), baik karena trombus atau embolus.
– Hemorrhagic completed stroke

Berdasarkan penyebab stroke iskemik terbagi atas :
1. Stroke iskemik trombosis
a. Definisi : Sumbatan pembuluh darah serebral oleh thrombus yang kebanyakannya berasal dari arterosklerotik.
b. Etiologi : Etiologi yang paling banyak adalah aterosklerosis, tapi bisa juga disebabkan oleh trauma, trombosis obliterans, polisitemia vera dan penyakit kolagen.
c. Gejala klinis :
i. Onset penyakit ini perlahan-lahan, keluhan sering timbul pada pagi hari saat bangun tidur.
ii. Biasanya didahului oleh gejala prodromal berupa vertigo, sakit kepala, kesemutan, afasia serta gangguan mental dan tidak berasa pada ujung-ujung ekstremitas.
iii. Gejala umum berupa kesadaran baik, hemiparese atau hemiplegi, disatria, afasia, mulut mencong kadang-kadang hemianopsia, dengan gejala fokal otak lainnya.
iv. Neurogenic bladder
2. Stroke iskemik emboli
a. Definisi : Sumbatan pembuluh darah serebral oleh embolus yang berasal dari jantung.
b. Etiologi : Atrium fibrilasit (50%), gangguan atau penyakit katub, kardiomiopati, infark miokard, terutama 4 minggu setelah serangan, stenosis dan regurgitasi katub mitral, endocarditis infeksiosa dan lain-lain.
c. Gejala klinis :
i. Onset serangan ini mendadak, keluhan sering pada waktu menjalankan aktivitas.
ii. Gangguan motorik atau sensorik sesuai lesi.
iii. Apabila emboli besar, bisa menyebabkan delirium, pingsan, gelisah, kejang dan kesadaran menurun.

Manifestasi Klinis
Gambaran klinis utama yang dikaitkan dengan insufisiensi aliran darah otak dapat dihubungkan dengan tanda serta gejala di bawah ini :
1. Arteri vertebralis
a. Hemiplegi alternan
b. Hemiplegi ataksik
2. Arteri karotis interna (sirkulasi anterior ; gejala-gejalanya biasanya unilateral). Lokasi lesi yang paling sering adalah pada bifurkasio arteria karotis komunis menjadi arteria karotis interna dan eksterna. Gejala-gejala yaitu :
e. Buta mutlak sisi ipsilateral
f. Hemiparese kontralateral
3. Arteri Basilaris
a. Tetraplegi
b. Gangguan kesadaran
c. Gangguan pupil
d. Kebutaan
e. Vertigo
4. Arteria serebri anterior (gejala primernya adalah perasaan kacau)
a. Kelemahan kontralateral lebih besar pada tungkai. Lengan bagian proksimal mungkin ikut terserang. Gerakan voluntar pada tungkai terganggu.
b. Gangguan sensorik kontralateral.
c. Demensia, refleks mencengkeram dan refleks patologis
5. Arteria serebri posterior (dalam lobus mesencepalon atau talamus)
a. Koma.
b. Hemiparesis kontralateral.
c. Afasia visual atau buta kata (aleksia).
d. Kelumpuhan saraf otak ketiga – hemianopsia, koreoatetosis.
6. Arteria serebri media
a. Monoparesis atau hemiparesis kontralateral (biasanya mengenai tangan).
b. Kadang-kadang hemianopsia kontralateral (kebutaan).
c. Afasia global (kalau hemisfer dominan yang terkena) ; gangguan semua fungsi yang ada hubungannya dengan percakapan dan komunikasi.
d. Disfagia.

Diagnosis
Diagnosis didasarkan atas hasil :
1. Penemuan klinis
Anamnesis :
1. Terutama terjadinya keluhan / gejala defisit neurologi yang mendadak
2. Tanpa trauma kepala
3. Adanya faktor resiko GPDO
Pemeriksaan Fisik
1. Adanya defisit neurologi fokal
2. Ditemukan faktor resiko (hipertensi, kelainan jantung, dan lain-lain)
3. Bising pada auskultasi atau kelainan pembuluh darah lainnya
Skoring
1. Siriraj Stroke Score (SSS)
Variabel yang dinilai adalah tingkat kesadaran, muntah, sakit kepala, tekanan distolik dan petanda ateroma.
Rumus : (2,5 x kesadaran) + ( 2 x muntah) + (2 x sakit kepala) + (0,1 x tekanan distolic) – (3 x petanda ateroma) – 12
Nilai > 1 menunjukkan stroke hemoragik, nilai < 1 menunjukkan stroke iskemik, sedangkan nilai antara memerlukan pemeriksan CT scan.
2. Algoritma Score Gajah Mada
Variabel yang dinilai adalah penurunan kesadaran, nyeri dan reflek babinski.

2. Pemeriksaan penunjang
Stroke dengan oklusi pembuluh darah dapat dilakukan pemeriksaan :
1. CT Scan

Untuk menetapkan secara pasti letak dan kausa dari stroke. CT scan menunjukkan gambaran hipodens.
2. Ekokardiografi
Pada dugaan adanya tromboemboli kardiak (transtorakal, atau transesofageal)
3. Ultrasound scan arteri karotis
Bila diduga adanya ateroma pada arteri karotis. Disini dipakai prinsip doppler untuk menghasilkan continuous wave untuk mendeteksi derajat stenosis secara akurat, serta juga pulsed ultrasound device yang dikaitkan dengan scanner (duplex scan)
4. Intra arterial digital substraction angiografi
Bila pada ultrasound scan terdapat stenosis berat
5. Transcranial Doppler
Dapat untuk melihat sejauh mana anastomosis membantu daerah yang tersumbat
6. Pemeriksaan darah lengkap
Perlu untuk mencari kelainan pada cairan darah sendiri

Penatalaksanaan
Pengobatan secara umum
1. Breathing : menjaga jalan nafas dengan sedikit mengekstensikan kepala, menjaga lidah agar tidak jatuh ke belakang, pemberian oksigen 2-3 L/menit.
2. Blood : kontrol tekanan darah dan nadi, posisi kepala 30º dari bidang horizontal untuk menjamin aliran darah yang adekuat ke otak dan aliran balik vena dari otak ke jantung.
3. Brain : mengurangi edema, memenuhi intake cairan dengan larutan isotonis seperti Ringer Laktat 12 jam/kolf, atasi kejang dan gelisah.
4. Bladder : pasang kateter untuk menjaga pengosongan vesika urinaria
5. Bowel : memenuhi asupan makanan, kalori dan elektrolit.

Pengobatan secara khusus
a. Anti edema
– Gliserol
Diberikan per infus dalam larutan 10% dengan dosis 1-1,5 mg/kgBB selama 6-8 jam, untuk 5-7 hari. Dapat diberikan peroral 3-4 x 150 cc sehari.
– Manitol
Dalam larutan 15-20% infus manitol diberikan untuk menurunkan tekanan intrakranial, misalnya bila ada tanda-tanda herniasi.
Dosis 1-1,5 mg/kgBB dalam waktu 1 jam.
Lama kerja manitol kurang dari 4 jam, kemudian bisa timbul efek rebound, oleh karena itu perlu diberi infus ulang, atau kombinasi dengan anti edema lain seperti gliserol.
b. Obat anti agregasi
Khasiat pentoksifilin yang dapat mencegah agregasi eritrosit dan trombosit, serta asetosal dan dipiridamol sebagai anti agregasi trombosit dapat mengurangi viskositas darah dan memperbaiki mikrosirkulasi.
Misalnya : – Asetosal 100-300 mg/hari
– Dipiridamol 3×75 mg
c. Metabolik aktivator/ ionotropik
Dapat diberikan piracetam, pentoksifilin, flunarizin atau citicholin.
Misalnya : – Piracetam 3×800-6000 mg
– Pentoksifilin 3×400 mg
d. Sitoprotektif
Nimodipin 120-180 mg/hari atau 2-2,5 ml/jam dengan stringe pump
e. Rehabilitasi (fisioterapi)
Pada prinsipnya rehabilitasi dilakukan sedini mungkin secara bertahap baik secara pasif maupun aktif. Pasien dengan stroke harus dimobilisasi dan dilakukan fisioterapi bila kondisi klinis neurologis dan hemodinamik stabil. Untuk fisioterapi pada pasien yang belum boleh bergerak, perubahan posisi badan dan ekstremitas dilakukan setiap 2 jam untuk mencegah dekubitus. Latihan gerakan sendi anggota badan secara pasif 4 kali sehari untuk mencegah kontraktur.

Evaluasi Penderita Stroke
Skala-skala yang digunakan untuk melihat kemajuan penderita stroke adalah :
(1) Mathew scale
Skala ini digunakan di Eropa. Yang diperiksa adalah :
-. Mentation : kesadaran, orientasi, bicara (speech)
-. Saraf cranial
-. Kemampuan motorik
-. Kemampuan sensibilitas
-. Disability
(2) Canadian scale
Skala ini terutama digunakan di Amerika. Lebih sederhana dan lebih mudah digunakan, karena hanya memeriksa apa yang penting pada penderita stroke, yaitu :
-. Mental : kesadaran, orientasi, bicara (speech)
-. Fungsi motorik

Penderita yang akan keluar dari rumah sakit, harus diperiksa dengan menggunakan Barthel Index. Yang dinilai adalah :
-. Apakah penderita dapat bangun dari tempat tidur dan berjalan ke WC.
-. Apakah penderita dapat mengenakan pakaian.
-. Apakah penderita dapat memakai perhiasan/make up (untuk wanita), atau mencukur jenggot (untuk laki-laki).
-. Apakah penderita dapat mandi sendiri.
-. Apakah penderita dapat makan.
-. Apakah penderita dapat berjalan.
-. Apakah penderita dapat naik tangga.