persalinan normal

Posted: May 25, 2011 in Uncategorized

Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup, dari dalam uterus melalui vagina atau jalan lain ke dunia luar. Persalinan normal atau spontan adalah bayi lahir melalui vagina dengan letak belakang kepala atau ubun-ubun kecil, tanpa memakai alat atau pertolongan istimewa, serta tidak melukai ibu maupun bayi (kecuali episiotomi), berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.

Terdapat beberapa faktor yang berperan sebagai penyebab mulainya proses persalinan yaitu:
1. Faktor Hormonal
Penurunan kadar hormon estrogen dan progesteron 1-2 minggu sebelum partus , dianggap sebagai salah satu faktor penyebab mulainya proses persalinan. Sebagaimana diketahui progesteron merupakan penenang bagi otot-otot uterus.
2. Penurunan fungsi plasenta
Plasenta menjadi tua sesuai usia kehamilan. Vili korialis mengalami perubahan sehingga kadar estrogen dan progeteron berkurang. Iskemia otot-otot uterus
3. Keadaan uterus yang semakin membesar dan menegang akibat pengaruh hormon dan beban menyebabkan iskemia dari otot-otot uterus. Hal ini menyebabkan terjadi gangguan dari sirkulasi uteroplasenter yang membuat plasenta degenerasi.
4. Penekanan pada gangglion servikale dari pleksus Frankenhauser
Kondisi ini menjadi stimulasi (pacemaker) kontraksi otot polos uterus.

Persalinan ditentukan oleh 3 faktor utama diantaranya:
1. Power (His)
His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai dari daerah fundus uteri di mana tuba falopii memasuki dinding uterus, awal gelombang tersebut didapat dari ‘pacemaker’ yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut. Resultant efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal mengarah ke daerah lokus minoris yaitu daerah kanalis servikalis (jalan laihir) yang membuka, untuk mendorong isi uterus ke luar.

Terjadinya his, akibat :
1. kerja hormon oksitosin
2. regangan dinding uterus oleh isi konsepsi
3. rangsangan terhadap pleksus saraf Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi.

His yang baik dan ideal meliputi :
a. kontraksi simultan simetris di seluruh uterus
b. kekuatan terbesar (dominasi) di daerah fundus
c. terdapat periode relaksasi di antara dua periode kontraksi.
d. terdapat retraksi otot-otot korpus uteri setiap sesudah his

2. Passage (Keadaan Jalan Lahir)
Dari kelima tipe panggul wanita, tipe ginekoid merupakan tipe yang paling mudah dalam persalinan, dimana diameter sagital posterior pintu atas panggul hanya sedikit lebih pendek dari diameter sagitalanteriornya.
3. Passanger (Keadaan Janin)
Keadaan janin meliputi letak, presentasi, ukuran, berat janin, serta ada atau tidaknya kelainan anatomi mayor.
Dengan adanya keseimbangan berbagai faktor tersebut, persalinan normal diharapkan dapat berlangsung.

Berlangsungnya Persalinan Normal
Partus dibagi menjadi 4 kala, yaitu kala I atau kala pembukaan (terjadinya pembukaan servik sampai 10 cm), kala II (berkat kekuatan his dan mengedan janin terdorong hingga lahir), kala III (plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan), dan kala IV (mulai dari lahirnya plasenta sampai satu jam post partum)

KALA 1 : FASE PEMATANGAN / PEMBUKAAN SERVIKS
Kala I dimulai pada waktu serviks membuka karena his : kontraksi uterus yang teratur, makin lama, makin kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir yang tidak lebih banyak daripada darah haid dan berakhir pada waktu pembukaan serviks telah lengkap (pada periksa dalam, bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi). Selaput ketuban biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I.
Kala I dibagi menjadi 2 fase, yaitu:
• Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam.
• Fase aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung sekitar 6 jam.
Fase aktif terbagi atas :
1. fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.
2. fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.
3. fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm).
Peristiwa penting pada persalinan kala I:
1. keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis, akibat terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus.
2. ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar.
3. selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm).
Pematangan dan pembukaan serviks (cervical effacement) pada primigravida berbeda dengan pada multipara :
1. pada primigravida terjadi penipisan serviks lebih dahulu sebelum terjadi pembukaan – pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan sebelumnya, sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan
2. pada primigravida, ostium internum membuka lebih dulu daripada ostium eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di tengah) – pada multipara, ostium internum dan eksternum membuka bersamaan (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar)
3. periode kala 1 pada primigravida lebih lama (+ 20 jam) dibandingkan multipara (+14 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten pasien primigravida memerlukan waktu lebih lama.

KALA 2 : FASE PENGELUARAN BAYI

Kala II dimulai pada saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir pada saat bayi telah lahir lengkap. Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2. His menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2-3 menit sekali.
Lama kala 2 pada primigravida + 1.5 jam, multipara + 0.5 jam.
Peristiwa penting pada persalinan kala II
1. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul.
2. Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat.
3. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik)
4. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan.
5. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi).

Gerakan utama pengeluaran janin pada persalinan dengan letak belakang kepala:
1. Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring / membentuk sudut dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior / posterior).
2. Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat : 1) tekanan langsung dari his dari daerah fundus ke arah daerah bokong, 2) tekanan dari cairan amnion, 3) kontraksi otot dinding perut dan diafragma (mengejan), dan 4) badan janin terjadi ekstensi dan menegang.
3. Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah dari diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipito-bregmatikus (belakang kepala).
4. Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala, putaran ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis), membawa kepala melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis.
5. Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput melewati bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir berturut-turut : oksiput, bregma, dahi, hidung, mulut, dagu.
6. Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai dengan sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi anteroposterior sampai di bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu depan dan bahu belakang.
7. Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan lengan, pinggul / trokanter depan dan belakang, tungkai dan kaki.

Pelaksanaan Fisiologis Kala II Persalinan
1. Mulai Mengedan
Cara ibu mengedan yaitu:
a. Ibu dalam letak berbaring merangkul kedua pahanya sampai batas siku. Kepala sedikit diangkat sehingga dagu mendektai dada dan dapat melihat perutnya.
b. Sikap seperti diatas tapi badan dalam posisi miring kiri atau kanan tergantung dalam letak punggung anak. Posisi ini fisiologis dan dapt membantu putaran paksi yang belum sempurna.
Pemantauan dilakukan secara berkala untuk menilai ibu dan janin serta kemajuan persalinan dalam kala II. Memeriksa dan mencatat nadi ibu setiap 30 menit, frekuensi dan lama kontraksi selama 30 menit, denyut jantung janin setiap selesai mengedan, penurunan kepala bayi melalui pemeriksaan abdomen, cairan ketuban, apakah ada presentasi majemuk dan kehamilan kembar serta semua pemeriksaan dan intervensi yang dilakukan dalam catatan persalinan.
2. Melahirkan Kepala
Saat kepala bayi membuka vulva (5-6 cm), letakkan kain yang bersih dan kering yang dilipat 1/3 nya di bawah bokong ibu dan siapkan kain atau handuk bersih di atas perut ibu (untuk mengeringkan bayi segera setelah lahir). Lindungi perineum dengan satu tangan (dibawah kain bersih dan kering), ibu jari pada salah sisi perineum dan 4 jari tangan pada sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang kepala bayi. Tahan belakang kepala bayi agar posisi kepala tetap fleksi pada saat keluar secara bertahap melewati introitus dan perineum.
Usap muka bayi dengan kain atau kasa bersih atau DTT untuk membersihkan lendir dan darah dari mulut dan hidung bayi.
Jangan melakukan pengisapan lendir secara rutin pada mulut dan hidung bayi. Sebagian besar bayi sehat dapat menghilangkan lendir tersebut secara alamiah pada dengan mekanisme bersin dan menangis saat lahir. Pada pengisapan lendir yang terlalu dalam, ujung kanul pengisap dapat menyentuh daerah orofaring yang kaya dengan persyarafan parasimpatis sehingga dapat menimbulkan reaksi vaso-vagal. Reaksi ini menyebabkan perlambatan denyut jantung (bradikardia) dan/atau henti napas (apnea) sehingga dapat membahayakan keselamatan jiwa bayi. Dengan alasan itu maka pengisapan lendir secara rutin menjadi tidak dianjurkan.
Selalu isap mulut bayi lebih dulu sebelum mengisap hidungnya. Mengisap hidung lebih dulu dapat menyebabkan bayi menarik nafas dan terjadi aspirasi mekonium atau cairan yang ada di mulutnya. Jangan masukkan kateter atau bola karet penghisap terlalu dalam pada mulut atau hidung bayi. Hisap lendir pada bayi dengan lembut, hindari pengisapan yang dalam dan agresif.
3. Memeriksa Tali Pusat pada Leher
Setelah kepala bayi lahir, minta ibu untuk berhenti meneran dan bernafas cepat. Periksa leher bayi apakah terlilit oleh tali pusat. Jika ada dan lilitan di leher bayi cukup longgar maka lepaskan lilitan tersebut dengan melewati kepala bayi. Jika lilitan tali pusat sangat erat maka jepit tali pusat dengan klem pada 2 tempat dengan jarak 3 cm, kemudian potong tali pusat di antara 2 klem tersebut.
4. Melahirkan Bahu
Setelah menyeka mulut dan hidung bayi hingga bersih dan memeriksa tali pusat, tunggu hingga terjadi kontraksi berikutnyadan awasi rotasi spontan kepala bayi. Setelah rotasi eksternal, letakkan satu tangan pada setiap sisi kepala bayi dan beritahukan kepada ibu untuk mengedan pada kontraksi berikutnya. Lakukan tarikan perlahan kearah bawahdan luar secara lembut kearah tulang punggung ibu hingga bahu tampak dibawah arkus pubis. Angkat kepala bayi kearah atas dan luar untuk melahirkan bauh posterior bayi.

5. Melahirkan Seluruh Tubuh Bayi
• Saat bahu posterior lahir, geser tangan bawah (posterior) ke arah perineum dan sanggah bahu dan lengan atas bayi pada tangan tersebut.
• Gunakan tangan yang sama untuk menopang lahirnya siku dan tangan posterior saat melewati perineum.
• Tangan bawah (posterior) menopang samping lateral tubuh bayi saat lahir.
• Secara simultan, tangan atas (anterior) untuk menelusuri dan memegang bahu, siku dan lengan bagian anterior.
• Lanjutkan penelusuran dan memegang tubuh bayi ke bagian punggung, bokong dan kaki .
• Dari arah belakang, sisipkan jari telunjuk tangan atas di antara kedua kaki bayi yang kemudian dipegang dengan ibu jari dan ketiga jari tangan lainnya.
• Letakkan bayi di atas kain atau handuk yang telah disiapkan pada perut bawah ibu dan posisikan kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya.
• Segera keringkan sambil melakukan rangsangan taktil pada tubuh bayi dengan kain atau selimut di atas perut ibu. Pastikan bahwa kepala bayi tertutup dengan baik.
6. Memotong Tali Pusat
Dengan menggunakan klem DTT, lakukan penjepitan tali pusat dengan klem pada sekitar 3 cm dari dinding perut (pangkal pusat) bayi. Dari titik jepitan, tekan tali pusat dengan dua jari kemudian dorong isi tali pusat ke arah ibu (agar darah tidak terpancar pada saat dilakukan pemotongan tali pusat). Lakukan penjepitan kedua dengan jarak 2 cm dari tempat jepitan pertama pada sisi atau mengarah ke ibu. Pegang tali pusat di antara kedua klem tersebut, satu tangan menjadi landasan tali pusat sambil melindungi bayi, tangan yang lain memotong tali pusat di antara kedua klem tersebut dengan menggunakan gunting disinfeksi tingkat tinggi atau steril.

KALA 3 : FASE PENGELUARAN PLASENTA

Kala III dimulai pada saat bayi telah lahir lengkap dan berakhir dengan lahirnya plasenta. Kelahiran plasenta adalah lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri. Lepasnya plasenta dari insersinya mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal.
Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir.
Kala III terdiri dari dua fase:
• Fase pelepasan uri
• Fase pengeluaran uri
Mekanisme pelepasan uri
Kontraksi rahim akan mengurangi area plasenta, karena rahim bertambha kecil dan dinding bertambah tebal. Kontraksi-kontraksi tersebut menyebabkan bagian yang longgar adan lemah dari uri pada dinding rahim akan terlepas, mula-mula sebagian dan kemudian seluruhnya. Proses pelepasan ini biasanya setahap demi setahap dan pengumpulan darah dibelakang uri akan membantu pelepasan uri. Bila pelepasan sudah lengkap, maka kontraksi rahim mendorong uri yang sudah lepas ke SBR, vagina dan dilahirkan.
Selaput ketuban pun dikeluarkan, sebagian oleh kontraksi rahim dan sewaktu keluarnya uri. Di tempat- tempat yang lepas terjadi perdarahan antar uri dengan desidua basalis disebut retroplasenter hemato.

KALA 4 : OBSERVASI PASCA PERSALINAN
Kala IV yaitu sampai dengan 1 jam postpartum, dilakukan observasi. Hal ini dimasudkan agar penolong persalinan masih mendampingi ibu setelah selesainya bersalin sekurang-kurangnya satu jam.
Beberapa hal penting yang harus diperhatikan pada kala IV :
1. kontraksi uterus harus baik
2. tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain
3. plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap
4. kandung kencing harus kosong
5. luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma
6. resume keadaan umum bayi
7. resume keadaan umum ibu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s